Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

Informasi Produk
DIADASA berbeda dengan obat-obat konvensional, karena tidak hanya menjaga level gula darah, tetapi juga akan meningkatkan produksi insulin di pankreas karena efek Insulin secretogogue. Disamping itu juga dapat memperbaiki kerusakan pankreas dan menjaga sistem metabolisme dalam tubuh. Penggunaan secara teratur, akan mengurangi ketergantungan bahkan terlepas dari penggunaan obat-obat kimia yang selama ini digunakan untuk menjaga level glukosa (gula) darah.
Masing-masing komposisi yang terkandung dalam DIADASA akan bekerja melalui mekanisme kerja yang komplit dan berbeda-beda dan bekerja secara sinergis untuk menjaga level gula darah, memperbaiki HbA1c ke nilai normal, memperbaiki fungsi pankreas, meningkatkan produksi Insulin di pankreas, mencegah kerusakan sel akibat Radical oxidative stress (ROS), dan bersifat sebagai antioksidan.
Kombinasi beberapa bahan aktif yang terkandung dalam DIADASA bekerja secara sinergis, tidak hanya membantu mengontrol level gula darah dan HbA1c, tetapi juga akan memperbaiki fungsi pankreas dan metabolisme dalam tubuh.
Komposisi Produk (Ekstrak Kering) dan KHASIAT
1. Andrographis Paniculata 80 mg
Andrografolid adalah kandungan utama dari Andrographis paniculata Hasil penelitian menunjukkan bahwa Andrografolid pada penderita DM dapat menurunkan level gula darah, dapat meningkatkan penggunaan glukosa otot melalui stimulasi transporter GLUT-4, serta akan meningkatkan sekresi insulin. Disamping itu Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Andrografolid akan memperbaiki kerusakan sel ß-Pankreas.
2. Momordica Charantia Fructus 100 mg
Memperbaiki kerusakan sel sel ß-Pankreas, meningkatkan sekresi dan sensitifitas insulin, mengurangi penyerapan glukosa melalui penghambatan α-Glukosidase, menurunkan pemecahan Disakarida menjadi Monosakarida di intestin, meningkatkan penggunaan glukosa pada jaringan perifer dan di otot, menurunkan glukoneogenesis (pemecahan Glikogen di hati menjadi glukosa) sehingga level gula darah lebih terjaga.
3. Cinnamomum Burmanii Cortex 90 mg
Meningkatkan penggunaan glukosa di sel, meningkatkan pengambilan glukosa dengan menginduksi translokasi GLUT-4 ke membran plasma, aktivasi AMP atau AMPK yang memainkan peran penting dalam regulasi metabolisme energi.
Cinnamomum burmanii dapat menghambat terjadinya Glikasi, yaitu proses alami yang terjadi ketika gula pereduksi, seperti glukosa atau fruktosa berikatan dengan protein dalam tubuh.
Glikasi merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan penuaan dan komplikasi diabetes, seperti katarak dan penyakit jantung, dll. Dengan cara ini akan menurunkan resiko kerusakan mikrovaskular atau gangguan sirkulasi darah. Disamping menjaga level gula darah, Cinnamomum burmanii juga akan menjaga level HbA1C pada batas aman setelah pemakaian selama 12 Minggu.
4. Swietenia Mahogany Semen 125 mg
Memperbaiki fungsi sel β pankreas, menghambat α-amilase dan β-glukosidase, sebagai antioksidan dan juga berfungsi sebagai antihiperlipidemia.
5. Tinospora Crispa Caulis 100 mg
Membantu pasien DM untuk menjaga level gula darah, menjaga dan mempertahankan level HbA1c pada kisaran normal, memperbaiki fungsi sel ß Pangkreas dan meningkatkan sekresi insulin, mencegah kerusakan mikrovaskuler untuk mengurangi resiko komplikasi akibat diabetes, mengurangi resiko kerusakan akibat Radical oksidative stress (ROS), Antioksidan.
Indikasi
Dosis & Cara Penggunaan
- 12 Minggu Pertama: DOSIS sehari 3 X 1 Kapsul.
Pada tahap awal konsumsi DIADASA secara bersamaan dengan obat konvensional (obat kimia) sesuai dengan petunjuk dokter, sambil tetap memonitor level gula darah secara berkala. Cek lagi beberapa parameter (Kadar gula darah puasa, gula darah sesaat, dan HbA1c) hingga berada pada batasan normal atau mendekati normal. Bila belum tercapai, tetap lanjutkan sesuai dengan dosis tersebut di atas. - 12 Minggu Kedua: DOSIS sehari 3 x 1 Kapsul.
Bila parameter sudah membaik dan mendekati normal, dosis obat konvensional (obat kimia) bisa diturunkan. tetap konsumsi DIADASA untuk pemeliharaan, dengan DOSIS sehari 3 x 1 selama 12 Minggu berikutnya. - Untuk Selanjutnya:
Bila hasil Lab sudah menunjukkan parameter yang normal, obat konvensional tidak perlu dilanjutkan dan dosis DIADASA bisa diturunkan (disesuaikan) hingga sehari 1 x1 Kapsul. Tetap lakukan pemeriksaan level gula darah sewaktu , gula darah puasa dan HbA1c secara berkala. , Pastikan parameter nya tetap berada pada kisaran range yang normal.

Mekanisme Kerja Diadasa
- 1. Insulin secretogogue
adalah zat yang merangsang produksi dan pelepasan insulin dari sel ß-pankreas. Andrographis paniculata, Momordica charanthia, dan Tinospora crispa cauli adalah kelompok Insulin secretogogue yang sudah diketahui dan diakui dapat meningkatkan produksi Insulin di Sel ß-pankreas.
- 2. Increase PPARγ expression
- Mengatur sekresi molekul sinyal yang berasal dari adiposit
- Mengubah fungsi endokrin jaringan adiposa. Aktivasi PPAR-γ akan meningkatkan penyerapan glukosa dan pemanfaatannya di organ perifer juga akan merangsang penyimpanan asam lemak dalam adiposa. Hal ini akan membantu menjaga level gula darah.
- 3. Increase up-regulation, translocation of GLUT-4.
GLUT-4 adalah protein spesifik yang berfungsi sebagai transporter substrat glukosa transmembran. Andrographis paniculata, Momordica charanthia, Cinnamomum burmanii, dan Tinospora crispa cauli akan mengatur GLUT-4, yakni protein pengangkut glukosa yang membantu penyerapan glukosa dari sirkulasi peredaran darah. GLUT-4 dapat mengangkut glukosa baik ke dalam maupun ke luar sel, disamping itu GLUT-4 juga meregulasi (mengatur) ambilan glukosa untuk metabolisme sel serta mempertahankan homeostasis glukosa.
- 4. α-Amylase inhibition
Menghambat aktivitas enzim α-Amylase. α-Amylase adalah salah satu enzim yang berperan dalam proses degradasi pati, sejenis makromolekul karbohidrat. Androraphis paniculate, Cinnamomum burmanii akan menghambat aktivitas enzim α-Amylase, sehinga perubahan karbohidrat menjadi glukosa bisa dihambat, dengan penghambatan proses ini level gula darah akan lebih terjaga.
- 5. α-Glukosidase inhibition,
Penghambatan aktivitas enzim α-Glukosidase akan menghambat pemecahan karbohidrat dari makanan menjadi glukosa. Hal ini bertujuan untuk mengendalikan kadar gula darah. Androraphis paniculate, Cinnamomum burmanii dan Momordica charanthia akan menghambat aktivitas enzim α–Glukosidase, sehinga perubahan karbohidrat menjadi glukosa bisa dihambat, dan level gula darah lebih.
- 6. GLP-1 Secretion (Glucagon like peptide-1).
- Merangsang pankreas untuk melepaskan insulin setelah makan,
- Menurunkan produksi glukagon, mencegah terbentuknya glukosa baru dari glikogen
- Memperlambat pengosongan lambung, sehingga tidak cepat merasa lapar.
- Menekan sekresi asam lambung dan kadar gas lambung, serta mengurangi kembung
- Membuat pankreas lebih reaktif terhadap glukosa darah dan meningkatkan sekresi insulin
- Menurunkan sekresi glukagon dari sel α-pankreas.
- Meningkatkan massa sel ß dan ekspresi gen insulin.
- Menekan sekresi asam lambung dan kadar gas lambung.
- 7. Free radical scavenging activity
- 8. Reduction of ROS / Antioxidant capacity,
adalah Pengurangan Reactive oxygen species
(ROS) yang dapat dilakukan dengan enzim antioksidan endogen, seperti SOD. ROS adalah turunan oksigen molekuler yang dihasilkan sebagai produk samping metabolisme aerobik, terutama oleh mitokondria. Peningkatan kadar ROS dapat menyebabkan kerusakan pada protein, lipid, dan DNA, yang disebut sebagai stres oksidatif. Stres oksidatif telah dikaitkan dengan berbagai macam patologi (penyakit). Andrographis paniculata, Cinnamomum burmanii dan Swietania mahogany bekerja sebagai antioksidan dengan cara menetralkan anion superoksida sehingga dapat mencegah timbulnya patologi komplikasi.
- 9. Preventing insulin resistance
Mencegah resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh, seperti otot, lemak, dan hati, tidak bisa menggunakan insulin secara optimal. Mekanisme resistensi insulin terjadi ketika insulin yang menempel pada reseptor sel kehilangan fungsinya. Momordica charanthia mengandung Charantin dan Polipeptida-p. Baik dalam bentuk ekstrak maupun non-extract dan dalam sediaan tunggal maupun kombinasi terbukti menurunkan kadar glukosa darah, meningkatkan sensitivitas dan kadar insulin, menormalkan kadar HbA1c, memperbaiki profil lipid serta mengurangi stres oksidatif.
- 10. Inhibition of age formation
Penghambatan pembentukan produk akhir glikasi lanjut (AGE) adalah proses untuk mencegah glikasi protein. Glikasi protein adalah proses ikatan kimia antara gula dengan protein atau asam amino yang terjadi secara alami di dalam organisme hidup. Glikasi protein dapat menyebabkan kerusakan sel dan berbagai komplikasi diabetes melitus. Produk akhir dari proses glikasi diyakini menjadi penyebab komplikasi vaskuler pada diabetes. Cinnamomum burmanii memiliki komponen fenolik yang bertindak sebagai senyawa antioksidan tetapi juga membantu menghambat pembentukan produk akhir proses glikasi yang terkait dengan kemampuannya memerangkap senyawa Reactive oxygen species (ROS) dan menangkap Reactive carbonyl species (RCS), jadi senyawa ini dapat mengurangi resiko timbulnya komplikasi akibat Diabetes Mellitus (DM)